“ dont disturb me, i need alone”. Dengan memasang earphnone di telingga , kata-kata itu sudah terwakili oleh kebiasaan saya ini. Mengengar lagu sambil membaca buku seakan membuai pada dunia saya sendiri . “ autism atau anti-sosial.red”. Entahlah, saya binggung untuk menyebutnya apa. Ini bukan kelainan mental yang saya dapatkan karena kerusakan sel saraf atau genetik dari orang tua saya. Tapi lebih pada trauma yang saya dapatkan di kota ini. Yah, Jakarta membuat saya harus seperti itu. Kadang teman, kau tak dapat membedakan mana teman dan mana lawan. Teman dan lawan seperti satu kepribadian atau kau juga bisa katakan kepribadian ganda. Awalnya saya hanya ingin membuktikan asumsi saya kalau yang dikatakan mereka tidak benar.” Hidup di jakarta itu keras ndok”. saya rasa uda cukup dewasa untuk bisa menghadapinya. Di usia saya sekarang ini wajar kalau saya punya perspektif sendiri. saya mencoba hal-hal yang menurut saya baik dan menantang.Sampai akhirnya saya terjebak oleh perbuatan saya sendiri. Sekarang saya ingin katakan” ternyata semua itu mungkin, dan saya terlalu lugu dan bodoh untuk sanggup menghadapinya. Penyesalan memang tidak ada yang berguna. Tapi seperti yang sudah saya bilang, usia saya sekarang menuntun saya untuk berpikir jalan kehidupan. Ku petik setiap pelajaran di baliknya. Mondar mandir, nah itulah ritme otak saya. saya butuh pencerahan, saya butuh jawaban atas pemahamanku selama ini. Benar atau keliru?. Dan saat itu aku mulai belajar tentang hidup. Kadang orang sudah memahaminya, tapi untuk meyakinkannya ia perlu mengalaminya. Ternyata saya baru belajar teman.
29
Apr
10
please!!
Advertisement





hahaaaa…
alin aun adyana….